Surat Saya Untuk Pak Mario

Pak mario, saya ingin mengemukakan alasan saya terhadap pilihan yang tadi bapak tanyakan tentang dicintai atau mencintai. inilah pilihan saya pak: “seperti yang bapak sampaikan tadi. jika bimbang, putuskanlah! jika ragu, putuskan lah! jika bingung, putuskan lah! dan saya putuskan Dicintai. kenapa? jika bapak mau dengar alasan saya yang saya harap bisa bapak tanggapi. saya pilih dicintai, bukan alasan nilai buat saya, tapi karena saya merasa lelah, bosan ntuk beberapa tahun ini dengan selalu mencintai yang nampaknya tidak mendapat timbal balik dari apa yang saya lakukan yaitu, dicintai.  sehingga jika pilihan tadi adalah mencinta tanpa dicintai atau dicintai tanpa mencintai. saya bimbang, tapi bimbang is not my style, saya pilih untuk dicintai tanpa mencintai karena saya sudah tau rasanya mencintai tanpa dicintai seperti apa

apa mereka yang juga lelah mencintai tanpa dicintai,

akan memili:

dicintai tanpa mencintai

daripada mencintai tanpa dicintai,

jika pertanyaan ini dihadapkan?

One thought on “Surat Saya Untuk Pak Mario

  1. entah mengapa untuk saat ini, saya lebih memilih untuk “mencintai” terlepas dari perasaan bosan, muak, atau mungkin tersakiti, rasanya selama ini menikmatinya. ini hal yang paling “ndablek” di dalam hidup saya, tapi saya yakin..perasaan mencintai ini akan berujung pada sesuatu yang saya harapkan (suatu saat nanti).

    bimbang is not my style, dan saat ini kebimbangan ini saya akhiri dengan satu kalimat: saya menunggu kembali orang yang bisa saya cintai, dan berharap dia mencintai saya juga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s