140 Karakter dan Wajah Buku

Sebuah akun twitter menawarkan 300 ribu untuk sebuah kalimat dengan 140 karekter tentang cinta. Lihat bahwa sebuah kalimat itu ada harganya. Bahwa kata dan kalimat bukan sekedar omong kosong yang kemudian kita bagi kepada yang lain, bahkan kadang omong kosong pun ada nilainya. Bukan nilai nominal  yang dilihat tapi bagaimana 140 karakter mewakilkan sebuah pikiran, pendapat, asumsi, perasaan atau sejenis lainnya.

Banyak nilai yang kita antar dari 140 karakter tersebut. Kalo baca tulisan-tulisan dyah yang sebelumnya, ada beberapa tulisan yang dyah sangkut-sangkut dengan twitter dan twitter. Karena jujur, bagi dyah banyak hal dan hal baru yang dyah temukan dari sana dari 140 karakter tersebut. Komunitas, informasi, diskusi, banyolan hingga kegalauan baru tertata apik dijajaran timeline. Jadi ketika ada orang yang masih sebelah mata memandang kehandalan dari 140 karakter ini, rasanya agak-agak gimana. Bukan menyudutkan atau apa, setiap orang pasti punya alasan dengan semua pilihannya. Dyah hanya ingin berbagi kalo si 140 karakter ini memang handal. Dibandingkan pendahulu sebelumnya yaitu “buku wajah” (maaf kalo artian dyah salah tapi demi sedikit penyamaran :p). oleh 140 karakter kita bisa mengikuti orang tanpa harus dia mengikuti kita, begitu pun sebaliknya siapa saja bisa mengikuti kita tanpa harus kita mengikuti dia. Jadi isi timeline bisa kita sesuaikan dengan siapa yang kita mau, bebas kepo tanpa harus blak-blakan kecuali yang dikepoin perhatiin semua followers nya. Sebenernya sih ini curhatannya dyah karena akun dyah di “wajah buku” itu rasa-rasanya sudah begitu terkontaminasi, kalo liat news feednya itu rasanya pengen nyapu, pengen di unfried tapi kadang engga tau ini dikenal atau engga, kalo di unfried ternyata kenal terus malah memutus tali silahturhami kan malah jadi ga enak kan. Memang sudah setahun ini dyah jarang sekali menggunakan akun itu kecuali untuk upload foto buat dimasukin ke alat elektronik lain atau buat sesekali kepo lebih dalam atau nungguin abang online (untuk yang satu ini emang rada parah sih emang). Tapi bukan berarti mengecilkan jejaring social “wajah buku” loh ya, mungkin karena sekarang sudah hampir semua orang bisa mengakses dan kemudahan mengakses, makanya “wajah buku” pun menawarkan banyak wajah sedangkan si 140 karekter sendiri menawarkan kebebasan dan kebermaknaannya dari 140 karakternya tersebut. Atau pun merasa sok paling suci dari kelebaian dan kealaian lalu menjadi seperti hakim yang menghakimi siapa-siapa yang geje geje nan ababil di akun-akun jejaring social, engga dyah cuma cerita. Kan ini cerita saya!😀 “Karena setiap yang dibagi baik dari ucapan, kata, dan tindak tanduk ada nilai didalamnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s