“Satu Hari Satu Tulisan” Efeknya

Semenjak menambahkan posting blog jadi rutinitas setiap hari, sekarang jadi punya kalimat wajib baru yang selalu berdengung dikepala, “nah yang itu bisa dipostingin tu dy.” atau “mau nulis apa kita hari ini.”  atau Ayo dy! Satu hari satu tulisan, apa aja deh postingin.” Hampir tiga minggu rutinitas wajib baru ini membuat dyah jadi  yang lebih care dengan apa yang ada dan terjadi disekitar. Memang jadi agak sedikit bawel didalam hati karena dengungan-dengungan kalimat-kalimat diatas yang mulai berdengung dari bangun tidur sampai bangun lagi sampai tidur lagi dan juga komentar-komentar dalam hati dari apa saja yang dilihat. Bahkan saat kuliah, ngobrol, atau hal mendengar lainnya dyah jadi seperti membagi dua jalur informasi: yang mau diserap untuk diserap dan diendapkan baik-baik dalam kepala dan satunya diendapkan untuk siap dipostingkan saat bertemu dengan notebook. Tapi kepedulian dengan sekitar tidak berhenti sekedar disimpan untuk dipostingkan tapi memang membawa dyah punya sikap peduli dengan apa yang terjadi. Efek yang agak lebay dari hal ini adalah rasa iba dan emosi pun juga jadi lebih mudah tergugah.

Dyah juga jadi suka mencoba hal baru dan jadi lebih berani mencoba hal yang baru. Karena dyah merasa dyah harus punya banyak referensi maka dyah harus banyak tau, banyak mencoba dan dyah hanya ingin menuliskan dari apa yang memang sudah dilihat, didengar, dialami dan dirasakan bukan sekedar omong kosong (kecuali karangan imajinasi ya). Jadi lebih berani untuk keluar dari comfort zone, taruhan dengan jadwal praktikum dan jadwal kuliah yang ga jelas dengan workshop, berani nonton konser walaupun ternyata konsernya batal,  belajar masak, ikut kegiatan-kegiatan yang selama ini terlalu ragu untuk diikuti dan tentu saja hal baru itu adalah berjanji dengan diri “Satu hari satu tulisan.”

Dari awal, semenjak dyah memutuskan untuk menambahkan slogan hidup “Satu Hari Satu Tulisan” dyah juga jadi membuat setiap hari harus ada warna yang beda dengan hari sebelumnya, karena dyah ingin setiap hari bisa memposting hal-hal beda setiap harinya. Sehingga dyah lebih peka untuk menarik benang warna-warna yang beda dari satu hari. Bahkan ketika hari itu berjalan biasa saja, selalu ada hal-hal kecil yang jadi warna berbeda untuk dipostingkan. Makanya akhir-akhir ini, jika dyah hanya diam saja dirumah, membuat posting terasa lebih lama untuk dibuat. Dyah harus jalan, keluar, bertemu dan berinteraksi dengan orang lain supaya dyah punya warna berbeda yang bisa dipostingkan. Tidak heran jika rumah sedang sepi dyah jadi gatel untuk keluar rumah sekarang-sekarang ini.

Selain itu, rutinitas ini juga menambah alasan mengapa dyah harus bersyukur. Bersyukur bahwa Allah senantiasa mengizinkan dyah selalu memiliki begitu banyak cerita untuk diceritakan. Bahkan saat yang tertidak enak sekalipun, memposting tetap membuat dyah bersyukur karena dari hal tersebut ada warna lain yang bisa dyah postingkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s