Dari Diam yang Bergerak

Perjalanan dari kampus ke rumah itu dyah tempuh dalam waktu 20 menitan. 20 menit itu bukan waktu yang sebentar dan tentu saja bukan jarak yang dekat. Perlu diingat 20 menit ini waktu yang ditempuh dengan berkendara motor sepanjang kurang lebih 13km. Entah ini kebiasaan yang baik atau yang buruk, disepanjang perjalanan itu dyah selalu aja punya cerita. Bisa imajinasi, bisa opini dyah, bisa flash back cerita yang dulu, mengatur rencana atau apa saja yang terlintas dipikiran dyah. Tapi dyah tetep konsen sama jalanan kok, kan keselamatan itu nomer satu. Itu lah hebatnya wanita, bisa melakukan dua perkerjaan dalam waktu yang bersamaan atau bahkan lebih dari dua pekerjaan. Dan tentu dyah sangat bersyukur menjadi perempuan karena diberi kelebihan ini.

Pada dasarnya, dyah itu selalu suka sama perjalanan lebih tepatnya berdiam pada sesuatu yang bergerak. Mau itu naik motor, naik mobil, kendaraan umum, kereta, pesawat, bis, kapal atau yang lainnya pikiran dyah selalu mudah melayang-layang terbang-terbang membuat cerita-cerita dan semacamnya. Pikirannya jadi encer kalo lagi diperjalanan. Makanya kalo dyah lagi di Jakarta yang jagonya macet itu, dyah masih bisa bersyukur karena jadi punya berjilid-jilid cerita, tapi tetep bête juga kalo macetnya udah diburu-buru sama waktu.

Engga enaknya dari berdiam di yang bergerak adalah berjilid-jilid cerita itu engga bisa langsung dyah coret-coret, maklum rada kampung jadi kalo dijalan sambil baca atau nulis bisa langsung mabok. Dyah biasanya mencoba menjaga ingatan dari apa yang dyah dapet itu dan kalo udah berhenti atau sampai ditujuan langsung segera dituliskan, walaupun akhirnya banyak yang jadi angin lalu juga karena ketika udah sampai ditempat tujuan udah ditunggu sama kegiatan berikutnya dan engga inget lagi sama yang mau dicoret-coret.

Selain pikiran dyah jadi gampang melayang dan terbang, yang dyah suka dari berdiam di yang bergerak adalah bisa menghilangkan jenuh dan penat kalo buat dyah. Karena bergerak itu banyak hal yang bisa dilihat dan hal yang dilihat itu pun ganti-ganti, engga mononton. Makanya kalo engga punya duit dan jenuh, cukup dengan modal bensin atau naik transjogja cukup membantu dyah memberi udara segar baru. Menyenangkan ya berdiam di yang bergerak, muncul banyak cerita, penat hilang dan juga bisa mengamati banyak hal dalam satu waktu tanpa harus terlalu terlihat awkward . inilah yang namanya efektifitas versi dyah, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya (secara tidak sengaja dan tidak langsung) .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s