Laktosa Intoleran

Ibu pernah cerita ke dyah kalo dyah bayi dulu engga bisa minum susu formula, tiap minum susu formula 30 menit kemudian dyah pasti muntah. Setelah besar, dyah sejauh ini engga terlalu bermasalah kalo mengkonsumsi susu atau produk olahan walaupun kadang muncul diare terhadap jenis susu tertentu. Nah, dari apa yang udah dyah pelajari, dyah mengansumsikan bahwa dyah sepertinya laktosa intoleran.

Kemarin waktu dyah belajar imunologi tentang sesuatu yang ada hubungannya sama dunia persusuan yaitu CPMA (Cow Protein Milk Allergi Management) di dalam materi itu diselipkan juga mengenai laktosa intoleran. CPMA atau bahasa mudahnya management alergi protein susu sapi berbeda dengan lakstosa intoleran. Kalo CPMA itu penyebabnya karena respon abnormal tubuh terhadap protein susu sapi sedangkan laktosa intoleran disebabkan karena enzim lactase yang dimiliki tubuh kurang. Pada anak yang menderita CPMA gejala tidak langsung muncul seketika setelah mereka minum susu, biasanya setelah beberapa kali minum susu pada suatu ketika anak akan diaren atau timbul merah-merah pada kulit. Namun, pada penderita laktosa intoleran gejala biasanya muncul 30 menit setelah mengkonsumsi susu. Gejala yang ditimbulkan biasanya berupa kentut, mual, kembuh dan diare. (dari gejala dan rentang waktu ini makanya dyah mengasumsikan bahwa dyah laktosa intoleran)

Dari estimasi yang diberikan oleh NIDKK, laktosa intoleran terjadi hampir 75% pada semua orang dewasa di Amerika dan Eropa dan hampir 90% pada orang Asia. Biasanya laktosa intoleran ini merupakan bawaan yang diturunkan dari orangtuanya. Pada dewasa laktosa intoleran masih menjadi masalah seumur hidup namun pada anak-anak kondisi laktosa intoleran ini hanya sementara karena disebabkan anak tersebut sedang mengkonsumsi antibiotic atau sedang memiliki infeksi saluran pencernaan.

Meskipun pada dewasa masalah laktosa intoleran berlangsung seumur hidup dan tidak ada treatment khusus untuk meningkatkan laktosa dalam tubuh, kita engga perlu khawatir. Berbeda dengan alergi yang sama sekali tidak boleh mengkonsumsi susu, bagi penderita laktosa intoleran bisa tetap mengkonsumsi susu dengan jumlah sedikit tanpa khawatir akan menimbulkan gejala. Lagi pula setiap orang memiliki tingkatan toleransi terhadap laktosa yang berbeda-beda sehingga kita bisa mengganti susu dengan produk olahannya seperti keju atau yogurt. Selain itu, karena susu merupakan sumber kalsium bagi yang menderita laktosa intoleran bisa memenuhi kebutuhan kalsiumnya dengan alternative sumber kalsium dan vitamin D selain susu.

Bagi kita yang merasa memiliki gejala laktosa intoleran atau memiliki siapa saja yang punya gejala demikian, dyah sarankan untuk melakukan pengecekan ke dokter supaya mengetahui lebih pasti apa yang kita alami sebenarnya. Selain itu disarankan juga untuk berkonsultasi pada ahli gizi supaya kita bisa diberi alternative-alternative pengganti susu bagi kita yang laktosa intoleran. Engga perlu khawatir berlebih jika kita mengalama laktosa intoleran, karena dari apa yang dyah baca-baca tidak ada efek yang serem kok paling cuma merasa engga nyaman aja karena merasa mual, kembung, kentut-kentut dan diare.

*sumber:

Kuliah Imunologi 16 Desember 2011

http://kidshealth.org/parent/nutrition_center/weight_eating_problems/lactose.html#

http://www.fda.gov/downloads/ForConsumers/ConsumerUpdates/UCM143705.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s